Thursday, December 29, 2016

Iain Thomson: Fenomenologi dan Perkembangan Teknologi

Dari waktu ke waktu, terutama sejak berkembangnya teknologi dengan demikian pesatnya dan berlangsungnya industri, masyarakat dari tiap zaman menyuarakan betapa teknologi bisa jadi membawa sengsara. Pandangan nihilistik ini terutama dapat kita baca dari para pemikir romantisisme dan transendentalisme. Representasi catatan pemikiran paling tebal agaknya ditulis oleh Henry David Thoreau melalui bukunya, Walden, yang menceritakan bagaimana ia memutus hubungan dengan beragam teknologi buatan dan mengasingkan diri ke hutan selama dua tahun. Buku tersebut adalah catatan hariannya dan merupakan amatan ekonomi-politik tamatan Universitas Harvard ini atas zaman yang dipengaruhi oleh perkembangan revolusi industri, di mana untuk menghadapi “teknologisasi” ia mengajukan apa yang disebutnya sebagai pemberontakan sipil (civil disobedience) dan bertahan hidup secara subsisten hanya dengan menggantungkan diri pada alam. Buku Walden tersebut terbit pada 1854 dan agaknya masih relevan merepresentasikan pandangan masyarakat dunia atas teknologi hingga seabad kemudian setelah Perang Dunia II menghadirkan goncangan hebat lantaran jatuhnya dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pada paruh akhir abad ke-19, teknologi komputer yang canggih dapat dipergunakan secara massal dan sempat membuat kita berpandangan positif atas teknologi. Kita pun menjadi lupa akan pengaruh negatif dan betapa teknologi dapat melakukan hal-hal paling mengerikan yang bahkan tak dapat dinalar dengan pendekatan realistis, sebagaimana diceritakan oleh banyak fiksi sains bertema distopia—mengenai kehancuran dunia. Gawai-gawai canggih hadir dalam genggaman dan mengikuti keseharian kita.

Namun kemudian, sebuah berita mengenai bocornya data-data intelijen Amerika (NSA, National Security Agent dan CIA, Central Intelligence Agency) oleh Edward Snowden pada 6 Juni 2013 agaknya membuat dunia kembali “terguncang”. Pemberitaan menyatakan mengenai penyadapan yang dilakukan oleh lembaga intelijen Amerika tersebut atas komputer yang beredar di seluruh dunia. Film teranyar Oliver Stone yang rilis tahun 2016 ini bahkan menggambarkan bagaimana aplikasi “Heartbeat” yang dikembangkan oleh NSA-CIA mampu memadamkan listrik satu kota di Tiongkok hanya dengan menekan sebuah tombol di suatu laboratorium di Amerika.

Meski sebagian dari kita mafhum akan tegangan ekonomi politik yang terjadi di antara negara-negara blok barat dan blok timur yang berkembang pasca-Perang Dingin, dengan fakta bahwa ancaman “gencatan senjata” terjadi secara tersembunyi di antara mereka karena tiap negara dapat dikatakan sama-sama kuat lantaran mereka sama-sama mengembangkan teknologi senjata nuklir, dunia pun kembali dibuat waswas lantaran privasi mereka sebagai individu terancam dengan fakta bahwa NSA-CIA mengawasi setiap gerakan mereka.

Kenyataan-kenyataan tersebut di atas agaknya menarik bila dilihat melalui pandangan fenomenologis Heidegger. Lewat Being and Time yang terbit pada 1927, ia menjelaskan secara teoretis mengenai hal-ihwal yang mendasar mengenai alasan mengapa kita cenderung melihat teknologi dari sudut pandang nihilistik dan apa yang perlu kita lakukan untuk melampauinya. Adapun sebuah artikel oleh Iain Thomson dalam “Phenomenology and Technology” menjelaskan secara detail dan historis mengenai perkembangan pemikiran fenomenologis Martin Heidegger, yakni dari studinya atas Immanuel Kant, Wilhelm Hegel, hingga Edmund Husserl.

Artikel tersebut menerangkan bahwa Husserl dan Heidegger memandang bahwa studi fenomenologi tidak membahas fenomena secara umum. Oleh mereka, fenomenologi dilihat sebagai cara untuk memahami bagaimana kesadaran menangkap hal-hal di sekitarnya. Dengan melihat aspek fundamental tersebut, maka fenomenologi berusaha menyadari bias-bias konsep dengan menyingkapkan hal-hal yang tak disadari oleh pandangan dengan mata telanjang yang barangkali disebabkan oleh dua faktor: 1) distorsi realitas dan 2) pemahaman yang tidak menyeluruh atas kesekarangan, kemelekatan, atau hal-hal yang tampak sudah jelas. Dalil I Fenomenologi, yakni Dalil Kedekatan (yang diambil dari terminologi psikologi Gestalt) menerangkan bahwa betapa hal yang paling dekat dengan kita di keseharian merupakan hal yang sebenarnya paling jauh bagi kita dari segi pemaknaan. Oleh karenanya, tugas fenomenologi adalah membantu menyingkapkannya.

Dengan memahaminya melalui jalan ini, kita dapat menggali lagi pengaruh pemikiran Kant dan Hegel atas Husserl dan Heidegger. Dalam bukunya, Critique of Pure Reason, Kant membedakan dua kemampuan untuk mengindera: intuisi (intuition) yang secara pasif menerima informasi sensoris dan pemahaman (understanding) yang merupakan bentuk pengolahan atau yang diistilahkan sebagai “representasi mental”. Kedua hal ini berkombinasi (receptive spontaneity) dan berlangsung pada tingkat kesadaran (conscious experience). Pendapat Kant mengenai tesis diskursivitas menyatakan bahwa kedua kemampuan ini, yakni intuisi dan pemahaman, bekerja bersamaan secara tak disadari untuk menghasilkan pengalaman (experience). Untuk memperoleh suatu pemahaman, Kant mensyarakatkan bahwa diperlukan adanya 12 kategori kognitif dasar. Bagi Kant, seseorang menggunakan kedua belas hal tersebut untuk memberikan kategori bagi hal-hal yang diinderainya. Kedua belas hal ini diatur oleh pikiran melalui struktur yang sudah pasti (fixed structure).

Hegel menolak pandangan ini dengan menyelami lebih dalam kejiwaan manusia terkait kesadarannya melalui Phenomenology of Spirit, menurutnya terdapat logika “dialektis” (“dialectical” logic). Tradisi Fenomenologi sendiri bermula darinya. Ia menambahkan peran kesadaran pada tingkat pertama-personal (first-personal consciousness), dan bukan semata-mata kesadaran diri (self-consciousness), untuk lebih menjelaskan kedua belas kategori oleh Kant.

Husserl sendiri bertolak dari pandangan Hegel tersebut dan menjelaskan lebih lanjut mengenai struktur kesadaran pada tingkat pertama-personal. Ia lebih memilih pendekatan Hegel karena menurutnya pendekatan Kant memiliki beberapa persoalan. Ia tidak bersepakat bahwa pemaknaan kita terhadap benda-benda hanya tergantung pada kombinasi dari dua kemampuan tersebut. Menurutnya, semestinya ada yang dinamakan intuisi eidetik (eidetic intuition), yakni kapasitas untuk menerima eidos dari suatu hal bersamaan dengan informasi sensoris. Konsepnya ini mengingatkan akan skema dualisme Kantian mengenai dikotomi intuisi dan pemahaman (a myth of the given).

Namun demikian, barulah oleh Heidegger, beberapa pandangan radikal ditambahkan ke dalam pendekatan fenomenologi, yakni 1) ketidaklengkapan kategori-kategori Kant (kegagalannya dalam menyatakan pengalaman kesadaran pada tingkat pertama-personal), 2)  historisitas pengalaman (fakta bahwa realitas yang disadari oleh seseorang berubah seiring waktu), 3) absennya kesadaran pada tingkat tertentu karena kesadaran kemampuannya yang terbatas, tak dapat menyadari dirinya sendiri dan dunia secara bersamaan, 4) ide bahwa takdir kesejarahan manusia ditentukan oleh pemahaman mengenai relasi antara diri kita dan dunia (oleh karenanya penangkapan kita secara fundamental mengubah sejarah dan sebaliknya).

Fenomenologi dengan pendekatan Husserl dan Heidegger ini tidak banyak berbeda di bidang selain filsafat teknologi. Mereka (Husserl II dalam The Crisis of European Sciences dan Heidegger I dalam Being and Time) sama-sama memiliki pandangan positif atas ilmu-ilmu empiris. Dengan dasar ini, mereka lantas berpendapat bahwa fenomenologi menyediakan metode untuk memperjelas dasar maupun esensi dalam disiplin saintifik, dan dengan demikian dapat (kembali) menempatkan filsafat sebagai ratunya ilmu pengetahuan. Meskipun, Heidegger II selanjutnya menolak pandangan teleologis Hegel mengenai keberlangsungan sejarah (historical progress). Lewat pendekatan barunya, Heidegger mengembangan teori mengenai struktur ontoteologis, lewat pendekatan holisme ontologisnya, bahwa segala sesuatu berubah dan karenanya pemahaman kita akan hal tersebut (understanding of the being entities) menentukan konsep kita atas segala sesuatu.

Bila dikaitkan dengan pandangan Nietzschean, ontoteologi “teknologis” ini memahami pengada (being) untuk terus-menerus kembali bergerak atas kehendak akan kekuasaan (the will-to-power). Karena keberlangsungan gerak menuju kekuasaan inilah, kita cenderung melihat perjalanan “perkembangan teknologi” dengan sudut pandang nihilistik, karena kita pun memandang diri kita sebagai sumber daya yang tidak berarti (the meaningless “resources”; Bestand). Kita tidak lagi melihat diri kita sebagai subjek modern yang menguasai dunia yang objektif, tetapi kita adalah sumber daya tak bermakna yang perlu diatur untuk dapat menjadi efisien secara maksimal, baik lewat bantuan kosmetik, farmakologi, manipulaasi genetis, maupun jejaring sibernetis.

Dengan demikian, metode fenomenologi Husserl sendiri tidak menjawab esensi suatu fenomena meski telah menghadirkan pendekatan intuisi eidetik (eidetic intuition). Ia sependapat dengan para “anti-esensial” yang dalam analisisnya lebih menekankan pada pemahaman atas norma sosial terhadap perkembangan teknologi. Pandangannya ini pun dekat dengan pandangan Foucault mengenai biopower yang melihat bahwa segala entitas sebagai sumber daya yang tak bermakna. Meski pandangan Foucault mengenai biopower yang terkait dengan kuasa-pengetahuan (power-knowledge) atas teknologi ini merupakan kelanjutan dan kritik atas padangan Heidegger mengenai pengada, Heidegger sendiri tidak terlampau menaruh perhatian pada perkara normatif penggunaan alat-alat teknologi. Ia lebih berminat melihat teknologisasi (technologization) dengan pendekatan ontohistoris. Tujuan utama fenomenologi teknologi oleh Heidegger ini dengan demikian adalah agar kita dapat melihat perkembangan teknologi dari kacamata ontoteologis sehingga kita dapat menstrukturkan kemampuan penginderakan sedemikian rupa sehingga dapat memaknai dunia, berkontestasi atas teknologi yang berkembang, bahkan melampauinya. 

Sumber utama:

“Phenomenology and Technology” oleh Iain Thomson dalam Companion of Philosophy of Technology.

No comments:

Post a Comment