Thursday, October 12, 2017

Denys Lombard: Tiga Unsur Penggerak dalam Perkembangan Islam Jawa

Dengan fakta Islam sebagai agama dengan jumlah penganut mayoritas di Indonesia, berbagai varian gerakan dan bentuk penerapan tradisi Islam dapat ditemukan di banyak daerah. Jawa dapat dikatakan menyumbang varian paling kaya karena di sinilah terjadi pertemuan kebudayaan Islam dengan banyak kebudayaan tradisional setempat maupun tradisi Hindu-Buddha yang telah lebih dulu berkembang. Berbagai organisasi keislaman seperti Persis, Nahdhlatul Ulama, dan Muhammadiyah merupakan bukti pluralitas ekspresi varian Islam dalam menghadapi perbedaan kultural ini. Dalam perkembangannya, terdapat berbagai pendapat yang menjelaskan tentang penggerak Islam di Jawa.

Dalam The Religion of Java, Clifford Geertz mengajukan klasifikasi kelompok abangan, santri, dan priyayi sebagai motor utama penggerak Islam di Jawa, dengan mengambil analisis di daerah agraris Mojokuto. Sementara itu, Denys Lombard dalam bukunya Le Carrefour Javanais: Les Réseaux asiatiques (Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia yang merupakan Buku II dari tiga buku dalam seri ini), menawarkan satu kalangan penggerak Islam Jawa yang luput disebutkan oleh Geertz: orang laut. Adapun demikian, dalam teksnya, Lombard mengkritik teori Geertz:

“Teori Geertz itu “menenangkan” dan telah banyak memukau kalangan tertentu. Namun, pasalnya ialah bahwa tripartisme itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tripartisme Indo-Eropa dan hanya dengan penggunaan istilah-istilah yang kurang tepat, baru kita dapat melihat suatu “struktur”. Sesungguhnya, meskipun dipungut dari bahasa setempat, ketiga istilah Geertz tersebut tidak pernah tergabung menjadi suatu “sistem” dalam konteks budaya aslinya.”

Lombard cukup keras mengkritik “segi tiga” yang diciptakan oleh Geertz dalam relasi abangan-santri-priyayi, karena baginya hal tersebut tidak relevan lantaran mereka berasal dari satu kenyataan sosial yang sama—sehingga tidak relevan dikaji berdasarkan jaringan perniagaan—dan oleh karenanya semestinya terbedakan justru berdasarkan penguasaan mereka atas kawasan geografis. Dengan demikian, Denys Lombard mengajukan versinya, ia menyebutkan tiga unsur penggerak Islam dengan pendekatan geografis tersebut: orang laut, kalangan borjuis, dan kalangan agraris. Artikel ini akan menjelaskan tiga kelompok yang dipaparkan Lombard dalam bukunya, diambil dari Buku II Bab II, dengan bentuk ringkasan, perlu digarisbawahi bahwa mazhab Annales yang dipegang Lombard sebagai metode penulisan bukunya ini menjadikan bukunya kaya akan detail berharga yang saling berkaitan dan bersinergi satu sama lain, sehingga melakukan peringkasan atas argumen maupun gagasan atas bukunya bukan merupakan perkara mudah.

Peran Orang Laut sebagai Penggerak Islam Jawa
Lombard menekankan bahwa masyarakat heterogen pertama-tama muncul karena adanya bauran interaksi sosial di kawasan-kawasan pantai Nusantara di antara para nelayan, pelaut, pengangkut, pedagang, dan petualang yang bermula pada zaman protosejarah—tidak terkecuali juga perkembangan Islam Jawa bermula dari tradisi orang laut. Beberapa hal yang disebutkannya dalam mengawali pemaparan ini, di antaranya sebuah perserikatan maritim, Rukun Pelayaran Indonesia (Ruplin) serta sosok H. M. Nazir yang merupakan orang pertama di Indonesia yang memperoleh diploma Sekolah Pelayaran di Vlissingen pada 1932.

Menurut Lombard, bagian terpenting dari lalu lintas laut masih dipegang dengan kukuh oleh kaum Muslim di Bugis ataupun Jawa, disusul oleh orang Manado dan Ambon yang menganut agama Kristiani. Namun demikian, ia menemukan bahwa dalam kesusastraan Jawa, tidak terdapat nyanyian pujian mengenai petualangan orang-orang di laut, berbeda halnya dengan tradisi orang Bugis yang sampai menciptakan sebuah wiracarita La Galigo yang panjang teksnya bahkan menandingi legenda Odisseus. Beberapa cerita Jawa, di antaranya kisah-kisah Panji dan Serat Kanda hanya menuturkan tentang petualangan tokoh-tokoh ceritanya ke tempat-tempat asing, baik tanpa penjelasan cara tempuh ke tempat asing tersebut ataupun dengan penjelasan bahwa mereka pergi ke sana dengan bantuan cincin gaib dan hal sejenis. Ia lantas menyimpulkan bahwa “rupa-rupanya laut dalam khayalan Jawa dicirikan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan”, meskipun ia lantas juga menerangkan bahwa mitos pendirian wangsa Mataram yang berkaitan dengan keberadaan sosok Ratu Kidul menunjukkan juga suatu kegelisahan tentang laut yang dapat dikatakan lebih mendasar. Ada pula kisah saduran dari tradisi Hindu-India tentang petualangan Bima dari kisah Panca Pandawa yang melakukan pencarian atas air penghidupan di dasar Samudera Kidul. Terlepas dari ketiadaan teks yang menerangkan petualangan yang sungguh-sungguh tentang orang Jawa dan lautan, ia masih menyimpulkan bahwa orang Jawa pernah termasuk sebagai pelaut yang mahir di Nusantara, seperti dikatakan:

“Barros mencatat hal itu dan menambahkan bahwa mereka bahkan mempunyai nama sebagai pelaut yang pernah pergi ke Madagaskar: Exercitam muito a navegaçȃo per aquelle Arcipelago Oriental, e dizem que navegaram já pelo Oceano té a Ilha de S. Lourenço. Dari semua armada yang pernah dihadapi bangsa Portugis selama penaklukan-penaklukan pemula mereka di Hindia, yang paling besar menurut pengakuan mereka ialah armada yang dikirim Patih Unus dari Jepara ke Malaka dalam bulan Januari 1513.”

Duarte Barbosa juga menerangkan tentang kapal-kapal dagang Jawa yang sampai di India. Lombard melihat bahwa kekuatan kapal-kapal dari pesisir Jawa dan pelayaran yang sampai menyentuh wilayah India itu dimungkinkan ada karena perkembangan hutan-hutan Jati ketika itu. Menariknya, berbeda dengan keadaan saat ini, ketika itu pohon-pohon jati itu terletak tidak jauh dari pantai. VOC yang tertarik untuk mengembangkan usaha ini pun juga mengembangkan lojinya yang pertama di Jepara. Bersamaan dengan orang Belanda yang mencampuri urusan kayu jati dan usaha galangan kapal, tukang-tukang kayu Jawa masih meneruskan kegiatan mereka hanya saja jumlah produksinya menciut dari waktu ke waktu. Bukti dari aktifnya perniagaan di pesisir Jawa ini masih dapat dilihat hingga Lombard menyelesaikan bukunya. Dua pusat kegiatan maritim besar ini dapat dilihat di Jakarta dan Surabaya, selain itu juga Madura yang berada di luar arus besar modernisasi. Kalaupun pelaut Jawa kurang dikenal dibandingkan pelaut Bugis, menurutnya hal tersebut dikarenakan pelaut Jawa kurang “khas” dan sudah pasti memperoleh pengaruh yang kuat dari modernisasi.

Adapun demikian, Lombard juga menjelaskan tentang usaha penggarapan tambak garam di daerah Madura. Menurut J. Crawfurd, usaha ini hanya dikenal di pantai utara Jawa dan di daerah Pangasinan di Pulau Luzon. Pada masa pendudukannya di tahun 1813, Raffles memonopoli garam di daerah Madura ini. Di periode pemerintahan Gubernur Jenderal J. J. Rochussen, kemaritiman Surabaya diperkuat lagi ditandai dengan didirikannya sebuah kompleks baru di tepi Kali Mas. Tempat itu menampung bengkel-bengkel dan galangan-galangan pembuatan dan reparasi kapal. Pada masa Kemerdekaan, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) menempatkan markas besarnya di Surabaya. Dua biografi terkait dengan perkembangan maritim Surabaya itu dipaparkannya pada akhir subbab ini, yakni Soedarpo Sastrosatomo dan Laksama R. E. Martadinata.


Peran Kalangan “Borjuis Pengusaha” sebagai Penggerak Islam Jawa
Setelah Islam berkembang pesat di Jawa, fokus orang terhadap kota tidak lagi hanya terpusat pada pelabuhan dan pasar yang menjadi penggerak usaha dagang, kota juga dipandang signifikan sebagai tempat pemusatan kekayaan berupa modal bergerak yang dapat dilipatkan—terutama melalui riba dan penanaman modal usaha. Bagaimanapun, Lombard tetap memberikan tekanan bahwa penggunaan istilah “borjuis” perlu dilakukan dengan sangat berhati-hati karena konsepsi borjuis di Barat tidak benar-benar memiliki persamaan dengan apa yang terjadi di Nusantara. Paling tidak, menurutnya, terdapat tiga unsur kesamaan kalangan pengusaha Indonesia dengan kalangan borjuis Barat, di antaranya:

“a) Mereka mengutamakan dengan sengaja modal bergerak (meskipun tidak meremehkan penanaman modal dalam benda tak bergerak), b) mereka kebanyakan tinggal di kota dan mengembangkan apa yang dapat dianggap sebagai suatu kebudayaan kota yang khas, yang berbeda dari kebudayaan keratin, maupun dari kebudayaa rakyat, c) mereka merupakan wahana suatu ideologi “nasional” yang sekaligus mellawan kerajaan jenis tradisional dan segala persaingan ekonomi, dari mana pun datangnya.” 

Perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia diwarnai oleh golongan usahawan ini, yang secara terang melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dengan pertama-tama melawan cengkeraman ekonomi Barat. Lombard juga memaparkan tentang peran mereka dalam menghadang laju ekspansi pesaingnya yang keturunan China, perlawanan mereka terhadap komunisme (1927, 1948, dan 1966), serta perlawanan terhadap birokratisme dari pihak kerajaan-kerajaan Jawa. Dua daerah di Indonesia yang berperan besar dengan kehadiran para usahawannya ini adalah Sumatera dan Jawa.

Di Sumatera dalam masa pergerakan kemerdekaan, dapat dilihat bahwa orang Minang berperan penting dalam perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga sekaligus memiliki tujuan untuk memunculkan suatu kapitalisme nasional di Indonesia, hal yang mana mendapatkan tentangan dari pemerintahan Soekarno. Upaya kapitalisme nasional ini bagaimanapun pernah digagas dalam partai-partai yang di antaranya didirikan oleh Muhammad Natsir (lahir di Alahan Panjang) yakni Partai Masjumi dan partai yang digagas oleh Sutan Sjahrir yakni Partai Sosialis Indonesia (PSI). Di waktu bersamaan, berkembang pula wacana pemisahan diri yang digagas di Sumatera Barat—dan sebagiannya di Sulawesi Utara—oleh PRRI. Partai-partai ini dan juga niatan PRRI ini digagas oleh para usahawan lantaran kekecewaan mereka menghadapi politik pemerintahan Soekarno yang condong mengarah ke kubu sosialis. Orang Minang berikutnya yang juga memiliki peran penting dalam pergerakan nasional Islam di Indonesia adalah Djamaluddin Malik, yang mendirikan di antaranya sebuah industri perfilman di Indonesia yang bercorakkan Hollywood, Perseroan Artis Republik Indonesia (Persari) dan demi menentang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berhaluan komunis ia mendirikan pula Lembaga Seniman Budajawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) pada 1962 yang anggota-anggotanya adalah seniman dengan latar belakang Muslim.

Di Jawa sendiri, berdasarkan telaah Barros, Lombard pertama-tama menyebut nama Utimutiraja, yang berwenang atas daerah Upeh dan merupakan orang paling kaya di seluruh kota—merupakan pemimpin dan wakil dari orang-orang di seluruh Jawa yang berasal dari Tuban, Jepara, “Cunda” (disinyalir sebagai nama lain dari Jakarta), dan Palembang dan juga Tuam Colascar (disinyalir bermakna Tuanku Laskar) yang berkuasa untuk daerah hilir yang menjadi tempat berkumpulnya para pedagang asal Gresik. Lombard juga menggunakan sumber teks Belanda, di antaranya dari Rijklof van Goens, untuk meneliti keadaan lingkungan usahawan Jawa. Hal pertama yang menjadi perhatian dari sumber tersebut adalah terkait sikap dasar permusuhan dari pihak Sunan terhadap usaha perdagangan bebas, yang disinyalir diakibatkan oleh kecurigaan Sunan akan adanya pembangkangan kota-kota niaga Pesisir dan juga monopoli yang prinsipnya telah ada sejak zaman Majapahit di abad ke-14 ataupun oleh Iskandar Muda di Aceh pada abad ke-16. Dengan demikian, kegiatan perniagaan di pantai utara dapat dikatakan diatur dan diawasi oleh banyak pegawai yang memberikan laporannya kepada sang Sunan, disebutkan oleh Lombard sebagai berikut:

“Mula-mula sebagaimana mestinya oleh para stedehouders (maksudnya “adipati”) dari ketujuh provinsi maritim—Blambangan, Surabaya, Tuban, Pati, Demak, Pemalang, dan Cirebon—lalu di setiap pelabuhan oleh kedua syabandar atau “kepala polisi” (sabandars ofte tolmeesters) yang relatif otonom, dan akhirnya oleh kedua komisaris tinggi (commissarissen), Kiai Wira dan Kiai Wirajaya yang waktu itu mempunyai wewenang atas seluruh Pesisir dan dibantu oleh sejumlah besar inspektur (toesinders).”

Selain monopoli VOC dan monopoli Mataram di ranah perdagangan, masih terdapat juga beberapa usaha perniagaan partikelir. Banten adalah salah satu contoh daerah yang tidak masuk ke dalam sistem monopoli tersebut, sehingga kemajuan pesatnya di ranah perniagaan dikhawatirkan oleh Sunan maupun Batavia. Dikatakan, terdapat faksi besar yang mendukung kepentingan Banten dan sangat bertentangan dengan Amangkurat.

“Pihak VOC memang berkali-kali berbicara tentang Mahomedaensche papen atau “orang-orang Muslim yang fanatik”, atau papen en ander gespuys, “orang-orang fanatik dan bajingan-bajingan lain”, yang merupakan leluhur kaum santri zaman sekarang.”

Pada 1649, juga terdapat usaha perlawanan terhadap Amangkurat yang justru dipimpin oleh saudaranya sendiri, Pangeran Alit yang didukung oleh para paepen meski kemudian usaha tersebut gagal dan Pangeran Alit dieksekusi. Pukulan demi pukulan terhadap pemerintahan Amangkurat masih terus berlanjut. Fakta ini sendiri menunjukkan bahwa golongan-golongan pedagang Jawa memiliki pengaruh yang besar dalam membendung pergolakan terhadap pemerintahan kerajaan Jawa. Selang beberapa waktu, terbentuk juga golongan masyarakat dagang di wilayah pesisir seperti di Kudus dan Pekalongan dan di kota-kota pedalaman seperti Yogyakarta dan Surakarta dengan daerah khusus tempat perniagaan mereka yang disebut kauman dan umumnya terletak di sekeliling masjid agung setempat. Muncul dan meluasnya kauman ini adalah akibat dari sejumlah faktor yang saling berentetan: mundurnya politik monopolistis dari Mataram, rangsangan pada perusahaan swasta akibat kesatuan Hindia Belanda, serta munculnya imigran Hadramaut yang membawa komponen niaga yang baru. Menurut Lombard, perlu dilakukan studi perbandingan perlbagai kauman di Jawa ini sehingga dapat diperoleh keterangan tetang kelompok-kelompok masyarakat niaga karena perkembangan mereka tidak sama satu dengan yang lainnya.

Pada paruh kedua abad ke-19, sektor perniagaan berkembang dengan pesat, yakni pada produksi kopra, penanaman tembakau dan pengeringan daunnya, budidaya karet, industri batik, hingga industri rokok kretek. Bersamaan dengan meningkatnya anggota golongan borjuis baaru ini, terjadi juga kenaikan jumlah haji dan mereka terbentuk menjadi suatu kelompok kuat yang berpengaruh, seperti disimpulkan Lombard:

“Tidak mengherankan kalau sejumlah pergerakan dan perkumpulan sosial atau politik timbul di berbagai kota Jawa berhubungan dengan luapan semangat sosial itu.”

Ia menjelaskan beberapa pergerakan di antaranya: pergerakan koperasi yang kemudian dikembangkan oleh Hatta pada 1920, dari ide awal gerakan sebelumnya yakni suatu gagasan mengenai koperasi yang kali pertama dilancarkan pada 1895 di Purwokerto atas prakarsa pegawai Belanda, W.P.D. de Wolff van Westerrode. Selanjutnya, ada upaya pergerakan serupa dengan didirikannya Hajatul Qulub di Majalengka oleh Haji Abdul Halim—perkumpulan itu di kemudian waktu berubah menjadi Persjarikatan Ulama. Pada 1911, Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan di Surakarta oleh Haji Samanhoeddhi, dan perkumpulan Muhammadiyah menyusul di tahun 1912 didirikan oleh kyai dari kauman di Yogyakarta, Ki Ahmad Dahlan. SDI kemudian menjadi suatu kekuatan politik ketika namanya disederhanakan menjadi Sarekat Islam dankemudian menjadi Partai Sarekat Islam. Juga merupakan kekuatan yang diperhitungkan, pada tahun 1923, pedagang-pedagang asal Sumatera yang bermukim di Bandung, yakni Haji Zamzam dan Haji Muhammad Junus, mendirikan Persatuan Islam (Persis). 

Terkait sumber pengetahuan tentang perniagaan di Jawa pada periode menjelang dan segera sesudah Perang Pasifik tersebut, Lombard menyebutkan pula nama seorang wartawan Batak, Parada Harahap yang merekam perjalanannya untuk surat kabar tempatnya bekerja, Tjaja Timur. Lantaran terpukau akan modernisme yang dilihatnya terjadi di Jepang sejak tahun 1933, Harahap menjelajahi Pulau Jawa dari timur ke barat demi mencari usahawan-usahawan lokal Indonesia untuk memahami “modal nasional” saat itu. Ia mengunjungi di antaranya General Motors di Tanjung Priok, Goodyear di Bogor, pabrik sepatu di Kalibata oleh Jan Bata, perusahaan tenun, tekstil, dan batik. Ia juga sempat ke Surakarta dan menjumpaai pengusaha Arab, lantas pabrik kaus kaki, pabrik kaleng, dan tempat penenunan, ia bahkan juga ke Kudus dan mewawancarai “raja-raja rokok Kretek”, termasuk juga Nitisemito, pengusaha yang dianggap paling kaya di antara mereka semua. Pada akhir penjelajahannya di Surabaya dan Malang ia merasa kecewa karena melihat perusahaan-perusahaan asing besar di daerah tersebut. Bagaimanapun, kesimpulan dari penelitiannya menunjukkan bahwa kendati kalangan Sumatera memegang peranan penting dalam sistem perniagaan tanah air, “modal nasional” dikatakan tetap berada di Jawa dan masih kurang baik keadaannya lantaran beberapa sebab.

“Dan dengan tepatnya ia meringkaskan sebab-sebab terbesar keterbelakangan itu menjadi tiga hal: a) tetap berkuasanya mentalitas priyayi, yang menganggap rendah perdagangan dan pedagang, dan lebih suka menerima pendapatan yang terjamin dari bunga uang yang ditanam dalam tanah dan dari sewa gedung daripada dengan berani menanam modal, b) sikap berhati-hati terhadap segala asosiasi dan permintaan bantuan kepada bank; perusahaan itu adalah perusahaan keluarga, dan labanya dengan konyol hanya disimpan di lemari dan bukannya ditanam kembali; c) adanya kesulitan untuk meneruskan kekayaan suatu generasi ke generasi lain tanpa membahayakannya.”

Setelah Kemerdekaan, para usahawan yang masih bertahan tersebut kemudian bergabung ke dalam kelompok Masjumi. Soekarno yang tidak mempercayai kekuatan usahawan di kubu tersebut kemudian menghimpun petualang bisnis yang berafiliasi dengan PNI ke dalam wadah Badan Musyawarah Penguasaha Nasional Swasta (Bamunas), tindakan yang sama sekali tidak menarik bagi para usahawan yang tergabung di Masjumi. Oleh karena itu, ketika pemerintahan Soekarno berakhir pada 1967, terjadi luapan semangat di lingkungan santri dan usahawan Islam yang sempat mengalami pembubaran Masjumi pada era Soekarno. Mereka mendirikan Himpunan Usahawan Muslimin Indonesia (Husami) dengan tujuan mempelajari dan menerapkan asas-asas Islam di bidang ekonomi dan keuangan. Pada tahun yang sama, didirikan pula Baitul Mal Ummat Islam untuk membantu meneruskan zakat dan Jajasan Dana Bantuan untuk Tjalon Hadji Indonesia (JDBTHI). Sebuah lembaga swasta, Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) juga didirikan pada tahun 1970 untuk membantu penerapan ekonomi ke pedesaan demi mendukung kemajuan lingkungan santri. Sebagai penutup bagian subbab ini, Lombard memaparkan juga biografi dari dua tokoh penting di bidang ini, yakni A. Kasoem, seorang pencipta industri kacamata di Indonesia, dan Ibnu Sutowo, seorang mantan “raja” perusahaan besar minyak, Pertamina.

Jaringan-jaringan Islam yang Agraris sebagai Penggerak Islam Jawa

Islam masuk ke kawasan agraris bukan merupakan hasil dari mubaligh-mubaligh secara perseorangan, melainkaan dibantu oleh dua lembaga yang juga sering terkait satu sama lain, yakni pondok pesantren dan tarekat. Dalam lemabaga-lembaga semacam ini, terdapat pembentukan jaringan yang kuat, dan kini masih bertahan sebagai kekuatan kaum Muslim di Jawa. Hubungan batin dapat dikatakan terjalin di antara murid dan guru, yang menjadikan masyarakat pesantren umumnya tak terpisahkan dengan kiai pendirinya, dan itulah sebabnya apabila kiai pendiri meninggal, umumnya pesantren sulit untuk menyesuaikan dengan penggantinya. Di antara yang dikatakan paling tua adalah pesantren Termas di dekat Pacitan di pantai selatan didirikan oleh Ngabdoemanan dan pondok modern Gontor yang melanjutkan pondok pesantren tua Tegalsari yang didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwana II.

Lombard melihat adanya kaitan pendirian pondok pesantren ini dengan tradisi pertapaan yang telah berkembang di zaman sebelumnya, yakni tradisi pertapaan untuk dharma. Terdapat persamaan antara struktur dharma Jawa kuno dengan struktur pesantren, yang dapat dimaknakan sebagai peralihan struktur dari skema pertapaan dharma ke lingkup perguruan dalam pesantren. Dikatakan oleh Lombard sebagai berikut:

“Persamaan pertama: keadaan jauh dari dunia ramai, di daerah yang kosong jauh dari ibukota kerajaan, maupun dari kota-kota besar yang modern. Si petapa maupun si santri memerlukan ketenangan dan keheningan untuk menyepi dan bersemadi dengan tenteram, untuk merenungi alam dan menyelami batinnya sendiri. […] Persamaan kedua: keutamaan, yang sudah pernah dikemukakan di sini, ikatan antara murid dan guru, sisya dan guru, murid dan kiai; ikatan yang “kebapakan”, dari orang ke orang, yang sudah tampil sebagai ikatan pokok pada zaman kerajaan Hindu-Jawa, dan barangkali bahkan sudah sebelumnya, dan yang oleh perkembangan tarekat-tarekat justru diperkuat pada tingkat pesantren. […] Kemiripan yang terakhir antar kedua struktur, dan yang sangat penting, adalah terpeliharanya banyak kontak antar-dharma, seperti juga antar-pesantren, serta kebiasaan lama untuk berkelana, yaitu untuk melakukan pencarian rohani dari satu pusat ke pusat lainnya. […] Masih ada satu alasan lagi yang dapat dikemukakan untuk membuktikan adanya ikatan bersejarah antara dharma dan pesantren. Di luar Jawa, madrasah rupanya berkembang terutama di daerah-daerah yang pernah kena pengaruh kebudayaan Hindu-Jawa, umpamanya di Madura, Lombok, dan Bali.”

Selain keterkaitan antara pesantren dengan pertapaan dalam bentuk dharma, Lombard juga menjelaskan adanya pengaruh wilayah-wilayah Asia lain terhadap pertumbuhan kosmopolitisme jaringan Islam di wilayah Jawa, yakni pengaruh dari India, Khorasan, Baghdad, dan Bukhara. Hal ini tampak pada sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Jaringan muslim di pedesaan yang berada dalam lingkup pesantren ini, tergugah oleh contoh kaum borjuis Islam yang melancarkan SI dan Muhammadiyah pada periode 1920-an, akhirnya juga membentuk wadah organisasi tersendiri pada 1926 di Surabaya dengan mendirikan Nahdhlatul Ulama (NU) atau “Kebangkitan Kaum Ulama” yang anggota utamanya adalah orang-orang dari pesantren di Jawa Timur. Pendiri NU di antaranya adalah Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah, K. H. Hasjim Asj’ari, K. H. Bisri, dan K. H. Ridhwan.
Pada tahun-tahun berikutnya, di sebelah barat, Kartosuwirjo membawa elite Muslim ke gelombang radikalisme dengan cita-citanya untuk mendirikan sebuah negara Muslim (Darul Islam). Pergerakan serupa timbul pula di Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar dan di Aceh yang dipimpin oleh Daud Beureu’eh.

Tahap penting lainnya setelah periode Kemerdekaan adalah berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang dibiayai oleh negara, mencakup empat fakultas: Usuluddin, Syari’a, Tarbiya, dan Adab (Teologi, Hukum, Pedagogi, dan Sastra). Meski demikian, pada tingkat dasar, peran pokok dalam pembimbingan santri masih dipegang oleh pesantren-pesantren di daerah, yang tetap merupakan lembaga swasta. Ada pula wacana tentang pembuatan pondok modern yang berniat untuk membentuk kader-kader Islam dalam suatu masyarakat yang modernis, K. H. Imam Zarkasji maju sebagai pembaharu Gontor, diikuti oleh pondok modern “perintis” lainnya di antaranya di Pabelan. Pembaharuan ini diniatkan dalam tiga tataran pokok yang pada dasarnya merupakan usaha untuk memperbaharui struktur pesantren secara fisik maupun spiritual. Lombard kemudian mengakhiri pembahasannya pada subbab ini dengan menjabarkan biografi K. H. Hasjim Asj’ari, seorang pendiri Nahdhlatul Ulama, dan Mbah Ma’sum, seorang guru dari Lasem yang meskipun semasa hidup kurang dikenal secara nasional tetapi kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan goncangan besar dalam skala nasional dari satu jaringan pondok pesantren ke pesantren lainnya.

Sumber utama:
Lombard, Denys. (Cetakan Ketiga, Maret 2005). Nusa Jawa Silang Budaya II: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama dan Forum Jakarta-Paris EFEO.

No comments:

Post a Comment