Tuesday, December 13, 2016

Søren Kierkegaard: Bahaya Kerumunan dan Upaya Menjadi Diri Sendiri


Pengantar
Sepanjang hidupnya, individu akan selalu dihadapkan pada pilihan untuk tetap otentik menjadi dirinya sendiri dan mendasarkan pilihan-pilihannya pada nilai-nilai yang dipegangnya ataukah terlibat dalam bahaya kerumunan dan menuruti pilihan-pilihan yang diajukan oleh orang lain. Pada fase perkembangan seorang manusia, beberapa tahap pengenalan diri didukung oleh keluarga dan terutama oleh orang tuanya. Selama beberapa waktu hingga ia menjelang dewasa, individu tersebut akan menuruti saja arahan-arahan yang diberikan dalam lingkup keluarga tersebut. Namun demikian, pada akhirnya ia akan menemukan titik ketika ia telah memperoleh prinsip-prinsip individualitas yang memungkinkannya untuk menentukan sendiri jalan hidupnya dan benar-benar terlepas dari pengaruh pendapat orang lain. Perihal ini, Søren Kierkegaard dalam tulisan-tulisannya sangat bernas memaparkan tentang apa yang mungkin dilakukan oleh seseorang untuk berhasil melalui pergulatan hidup demi menjadi dirinya sendiri. Artikel ini akan memaparkan beberapa tulisan Kierkegaard yang dia tuliskan dengan nama samarannya,[1] tulisan-tulisan tersebut penting untuk membantu mengembangkan dasar pemahaman pembaca mengenai otentisitas diri manusia.

Dalam rentang kekaryaannya, Kierkegaard membahas proses ketika individu menentukan keputusan ketika dihadapkan pada banyak pilihan sebagaimana tampak jelas dalam tulisan Either/Or, A Fragment of Life (1843)[2], proses ketika individu tersebut merasa gelisah dalam menghadapi pilihan-pilihannya sebagaimana dipaparkan dalam tulisan Fear and Trembling (1843)[3] dan The Concept of Anxiety (1844)[4], proses ketika individu tersebut berusaha memperoleh pengetahuan dan kebenaran yang dapat membebaskannya dari kecemasan menghadapi pilihan tersebut sebagaimana tertuang dalam tulisan Philosophical Fragments, or a Fragment of Philosophy (1844)[5], hingga pada akhirnya ia dapat menemukan bahwa kebenaran dapat diperoleh dari subjektivitasnya yang perlu ia apropriasikan ke dalam hidupnya sebagaimana dituturkannya dalam Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments (1846).[6] Penjelasan mengenai proses-proses tersebut kemudian dihadapkan pada tulisan Kierkegaard berikutnya, yakni Two Ages: The Age of Revolution and The Present Age, A Literary Review (1846)[7] yang memaparkan mengenai keadaan masa sekarang yang dihadapi oleh individu.

Dalam TA, pemaparannya mengenai keadaan masa sekarang yakni yang terjadi pada 1846 saat artikel tersebut dituliskannya—dan agaknya masih relevan dengan keadaan masa milenium sekarang ini—diperbandingkannya dengan masa revolusi yang merujuk pada Revolusi Prancis 1789. Ia menggambarkan masa sekarang sebagai masa yang gelap dan tanpa hasrat lantaran individu dihadapkan pada kegamangan berada di tengah-tengah kerumunan dan kehilangan jati dirinya. Penjelasannya mengenai musabab kegamangan tersebut adalah lantaran individu kehilangan prinsip-prinsip individualitasnya. Pemahaman terhadap teks-teks heteronim Kierkegaard lainnya seperti EO, FT, TCA, PF, dan CUP dengan demikian menjadi penting sebagai modal pembacaan atas TA sehingga, apabila dikehendaki, pembaca dapat menemukan pemecahan atas masalah yang dipaparkan Kierkegaard terkait kondisi masa sekarang. Adapun demikian, artikel ini hanya akan mendalami teks CUP untuk membantu menjelaskan subjektivitas kebenaran serta proses apropriasi yang semestinya dilalui seorang individu untuk dapat bertahan dalam keadaan present age.

Present Age: Hasrat yang Lemah, Problema Ketergila-gilaan atas Uang, Penyamarataan Individu ke dalam Publik, hingga Meredupnya Prinsip Individualitas
TA adalah ulasan dan respons S. Kierkegaard atas novel Thomasine Christine Gyllembourg-Ehrensvard berjudul Two Ages, yang dipublikasikan pada 30 Maret 1846, setelah terbitnya karya pseudonim Kierkegaard yang diedit oleh S. Kierkegaard dan ditulis oleh Johannes Climacus, yang berjudul CUP. Teks ini membahas mengenai tegangan antara era revolusi dan era sekarang. Era revolusi (revolutionary age), lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan dengan gejolaknya itu tetap mempertahankan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga yang baik maupun yang buruk tetap dapat terbedakan. Sementara itu, era sekarang (present age)—merujuk pada tahun ditulisnya ulasan ini, yakni era modern pasca-Revolusi Prancis tahun 1846—adalah era yang tidak terintegrasi, lantaran era ini menekankan pada penyamarataan yang mengaburkan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga media dan publik dapat mendominasi dengan prinsip-prinsip konformitasnya dan mendorong sebanyak-banyaknya individu untuk menanggalkan kediriannya demi terlibat dalam kerumunan orang banyak dan terlibat dalam pergunjingan.

Perihal kategorisasi era yang telah dipaparkan sebelumnya, Kierkegaard menerapkan dua distingsi: pada era dengan hasrat yang kuat (passionate age), antusiasme adalah prinsip pemersatu (unifying principle) generasi, sementara pada era dengan hasrat yang lemah (passionless/very reflective age), rasa cemburu adalah prinsip pemersatunya. Kierkegaard mengategorikan era saat ini (present age) sebagai era dengan hasrat yang lemah. Padahal, hasrat yang lemah adalah penghambat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berarti. Berbeda dengan era revolusi yang menampilkan hasrat yang hebat dan menurut saya dapat diandaikan seperti kawah gunung yang bergejolak, era modern adalah era yang sangat reflektif dengan hasrat yang lemah yang menurut saya dapat dianalogikan layaknya air laut yang tenang, air laut dengan ombaknya yang kehilangan daya, laut yang kehilangan maknanya. Era ini adalah era ketika orang-orang dapat tenang-tenang saja untuk tidak berbuat apa-apa, dan lebih mementingkan aspek publisitas atau hal yang tampak di permukaan alih-alih kedalaman yang mendorongnya melakukan hal-hal esensial. 

Salah satu hal dangkal yang Kierkegaard sebutkan terjadi di era sekarang adalah ketergila-gilaan masyarakat atas uang kertas (paper money) dan transaksi yang menggunakan uang kertas. Uang adalah objek kehendak (the object of desire) generasi saat itu. Di era modern, orang-orang amat jarang menaruh rasa cemburu pada kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, mereka cenderung hanya tertarik pada uang dan menganggap bahwa hidup mereka telah lengkap hanya dengan mengukur kepemilikan mereka atas setumpuk kekayaan material. Sebagai era yang tanpa hasrat, prinsip yang berlaku adalah transaksi dan sirkulasi uang dan rasa cemburu yang muncul adalah rasa cemburu semata-mata menyangkut kepemilikan atas uang kertas. Padahal, pada satu titik, di tengah era uang kertas ini pula, suatu saat seseorang akan merasa kosong dan merindukan terdengarnya gemerincing uang koin (coin) yang jatuh, suatu hal yang lebih primitif seperti halnya hal-hal yang menandai vitalitas hidup, keberadaan orang yang diagungkan, kehadiran cinta, kecemerlangan para pemikir, para ksatria keyakinan, serta orang-orang yang menghargai derajat kemanusiaan.

Dikatakannya pula, era ini membiarkan segala jenis peristiwa berlangsung, tetapi sekaligus melenyapkan makna dari peristiwa-peristiwa itu. Di tengah kekosongan makna ini, ia menarik kembali arti penting moralitas, yakni karakter yang diperoleh dari kedalaman batin (inwardness). Hanya dengan kembali ke dalam batinnya, seseorang dapat memiliki keutuhan diri, kedirian atau individualitas (individuality). Sementara itu, era ini justru menekankan bahwa seseorang harus melakukan penyamarataan (leveling), yang mengutamakan aspek konformitas. Bagi Kierkegaard, abstraksi dari penyamarataan ini terkait dengan negativitas yang lebih tinggi: kemanusiaan murni—suatu konsep yang agaknya dapat dipandang sebagai utopia. Penyamarataan, baginya, adalah suatu urgensi dekaden.

Pada poin tersebut, prinsip-prinsip egaliter yang diantarkan oleh slogan jurnalisme a la media (the press) justru mengaburkan keunikan dari individu dan menghilangkan arti penting prinsip kontradiksi (the principle of contradiction). Demi penerimaan oleh orang lain, individu terdorong untuk menyatu bersama kerumunan dan kehilangan jati dirinya di tengah orang banyak (the public). Untuk menjaga hubungan dengan orang banyak itu, individu tidak membahas hal-hal yang esensial, yang mirisnya hal ini didukung pula oleh publisitas media dengan borbardir gunjingan, sehingga individu dengan instan kehilangan kediriannya dan turut bergunjing, lantas menjadi penggunjing (the chatter). Baik media maupun orang banyak dikatakan oleh Kierkegaard sebagai hantu (phantom). Mereka tak memiliki wujud yang  konkret dan hanya berupa abstraksi yang menjadikan setiap individu yang berada dalam kelompok tersebut bukan siapa-siapa (nobody). Mereka hanya akan menjadi statistik tanpa karakter. Bahkan, hal ini mendorong ke arah yang lebih abstrak: demi diterima oleh orang banyak, dengan dorongan rasa cemburunya (selfish envy), semakin banyak orang akan rela menanggalkan kediriannya untuk menjadi bukan siapa-siapa. Ia lebih jauh lagi mengeksplor mengenai kemungkinan dari rasa cemburu untuk berubah menjadi kecemburuan etis, dan pada saatnya membuat seseorang kehilangan karakternya (principle of characterlessness).

Terdapat kesetujuan di tengah masyarakat bahwa penyamarataan dapat berlaku dan menjadi penting bagi berlangsungnya suatu generasi. Kierkegaard memandang, tidak demikian halnya bagi keberadaan individu. Prinsip persamaan (equality) yang menghendaki segala hal untuk menjadi egaliter adalah baik apabila ditempatkan pada konteks kemasyarakatan yang tepat. Baginya, tidak seorang pun dapat menghindari era penyamarataan ini lantaran prinsip egaliter ini memiliki daya negatif yang sangat kuat. Oleh karena itu, ia mengajukan bahwa prinsip individualitas (the principle of individuality) dapat mengatasi hal ini dengan mengembangkan abstraksi atas prinsip persamaan dalam suatu generasi beserta lompatan keyakinan (inspired leap of religiousness). Prinsip individualitas ini dapat mengantarkan seseorang pada kebenaran yang abadi, dan bukan kebenaran yang temporer yang semata-mata ditawarkan oleh refleksi yang stagnan (stagnation in reflection).

Dengan mempertahankan individualitasnya, seseorang dapat bertahan untuk tetap menjadi konkret. Prinsip individualitas memungkinkan seseorang untuk memiliki karakter dan kedirian yang mencerminkan keunikan-keunikannya sehingga ia tidak dapat direduksi ke dalam statistik belaka. Ia tidak akan menjadi sekadar kerumunan, orang banyak yang tanpa identitas. Kierkegaard menyebutkan pula bahwa seseorang yang membaca, dan dengan demikian memiliki kesadaran atas dirinya, dapat menghindarkan dirinya dari kesemuan berada di tengah-tengah kerumunan (a single individual who reads is not a public). Ketika seseorang memegang prinsip individualitas, di tengah kebisingan orang-orang yang bergunjing, ia akan mampu bergeming (silence). Sikapnya untuk hening di tengah hiruk-pikuk era modern dimungkinkan lantaran ia mampu untuk masuk ke dalam relung batinnya. Poin pentingnya adalah bahwa hanya orang yang dapat bersikap hening di tengah keributan dapat mengatakan hal-hal yang esensial, dan dengan demikian dapat bertindak esensial. Keheningan, yang menunda tindakannya untuk memilah hal-hal yang mencerminkan kepribadiannya, adalah jalan untuk mencapai sesuatu yang ideal. Ia mengandaikannya selayaknya seorang pengarang yang membutuhkan privasi yang merupakan inner sanctum-nya.

Inwardness: Menghayati Apa yang Ada di Relung Batin, Menemukan Kebenaran sebagai Subjektivitas, dan Bagaimana Menjadi Diri Sendiri
Dalam CUP, Kierkegaard melalui pseudonim Climacus mempersoalkan kebenaran objektif Hegel dengan kaitan pengalaman hidup sehari-hari. Climacus mengakui bahwa Hegel merupakan salah satu filsuf yang pemikirannya dapat melampaui pendahulu-pendahulunya, tetapi ia memandang bahwa kebenaran objektif (dalam terminologi Hegel: objektivitas murni) yang ditawarkan Hegel dalam pemikiran-pemikirannya—atas segala sesuatu di muka bumi ini—tidak mungkin dapat diperoleh bahkan meski pada akhir sejarah. Perlu digarisbawahi bahwa Climacus tidak menolak adanya kebenaran objektif, karena ia pun telah secara sadar menerapkan distingsi terhadap kebenaran objektif yang bersifat ilahiah maupun kebenaran objektif yang bersifat keduniawian seperti yang ditawarkan dalam pengetahuan saintifik, Climacus hanya menyatakan bahwa kebenaran objektif tersebut tidak mungkin dicapai oleh individu di masa hidupnya karena kebenaran tersebut bersifat abadi dan hanya dapat dipahami dalam keabadian (the eternal truth is to be understood eternally). Dengan demikian, Climacus dapat dipandang lebih menekankan pada kebenaran objektif yang mampu diperoleh individu dalam hidupnya yang kemudian ditangkapnya sebagai kebenaran subjektif, yang semestinya lebih diprioritaskan oleh individu tersebut. 

Dalam teksnya, Climacus memaparkan pandangannya yang positif atas tesis-tesis Gotthold Ephraim Lessing, seorang kritikus Jerman yang berfokus pada estetika, yang mengajukan mengenai hal-hal yang mungkin dan hal-hal yang aktual, terkait pengetahuan yang dapat dicapai individu. Ia menghargai Lessing yang tidak bersikap menggurui  terhadap kebenaran dengan menyatakan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui subjektivitas. Selanjutnya, Climacus mengajukan adanya pembeda di antara pemikiran objektif dan pemikiran subjektif secara teoretis. Di sinilah ia kemudian mengharapkan adanya suatu bentuk refleksi yang mendayagunakan relung batin individu untuk memahami kebenaran yang ditawarkan. Refleksi tersebut adalah refleksi batin (reflection of inwardness) yang berperan sebagai refleksi-ganda (double reflection) karena memungkinkan individu untuk menghayati di dalam dirinya hal-hal yang ia temukan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Wujud individu sebagai roh yang mengetahui (knowing human spirit)—dan dengan demikian memiliki keterbatasan-keterbatasan—menghalanginya untuk mencapai pengetahuan dalam tingkat kebenaran objektif (ia menyebutnya the pure I-I). Oleh karenanya, individu harus menyadari keterbatasannya sebagai pengada. Kesadaran inilah yang memampukan individu untuk mengalami reduplikasi abstrak, yakni double reflection, melalui refleksi objektif dan refleksi subjektif sekaligus dengan mengandaikan bahwa kebenaran objektif hanyalah sebatas pada apa yang dapat diterima oleh kelima inderanya dalam mempersepsikan dunia dan bukanlah objektivitas murni. 

Secara teoretis, terkait dengan pemikir-pemikir lainnya selain terhadap Hegel, agaknya Climacus telah cukup baik mengantisipasi kritik Edmund Husserl mengenai jalan berpikir saintifik-objektif melalui apa yang disebut Husserl sebagai “the passionate interest of the natural scientist” yang menyatakan bahwa ada kemungkinan  pengabaian atas fakta-fakta yang ada lantaran kita hanya menghendaki melihat apa yang ingin kita lihat, maupun komplain Merleau-Ponty terkait pemikiran objektif yang tidak acuh terhadap adanya subjek.[8] Seturut dengan pandangan mereka, Climacus berupaya mengantarkan pembacanya pada kebenaran yang dapat maupun tidak dapat dipahami sebagai “objektif” dengan menyatakan bahwa “apa yang kita ketahui… ditentukan oleh bagaimana kita mengetahuinya”.[9] Hal ini mengantarkan pemikiran Climacus selompat lebih jauh daripada pemikiran Immanuel Kant yang menyampaikan dalam pengantarnya pada edisi kedua Critique of Pure Reason bahwa logika bekerja seturut dengan jalan-jalan pengetahuan yang mengutamakan karakter abstrak dan hipotetis, sementara area pengetahuan lainnya tidak bekerja secara presisi dan saintifik sebagaimana logika. Dalam penjelasannya Doktrin Metode Transendental yang merupakan semacam revolusi kopernikan dalam Filsafat, Kant menyatakan asumsinya bahwa objek mengarahkan dirinya pada subjek—berbeda dengan pandangan terdahulu mengenai kesadaran seperti Rene Descartes yang menyatakan bahwa subjeklah yang mengarahkan dirinya pada objek. Pada akhirnya, Kant menyatakan bahwa tidak terdapat ruang bagi subjektivitas di dalam jalan berpikir matematis: “here one must know, or refrain from all judgment.”[10] Doktrin tersebut dinyatakan oleh Kant untuk menjelaskan mengenai fakta-fakta yang mesti ditelaah secara saintifik, semisal fakta logika yang termuat di dalam bidang Matematika. Sementara itu, Climacus tampaknya menolak menggunakan jalan pemikiran matematis semacam itu dalam hal-hal menyangkut kehidupan sehari-hari, meski dalam artian ini ia tidak menampik penggunaannya dalam  ranah saintifik. Bahwasanya, individu yang memiliki hasrat yang kuat dan menemukan kebenaran sebagai subjektivitas tidak dapat direduksi ke dalam jalan-jalan berpikir matematis yang terlalu ketat dan rigor. Pada poin ini, dapat ditafsirkan bahwa Climacus mengetengahkan refleksi subjektif sebagai jalan kebenaran yang tidak mereduksi individu ke dalam rigoritas yang menampik keunikan-keunikan ciri khas tiap individu.

Meski lebih mengunggulkan refleksi subjektif dan menyatakan kebenaran sebagai subjektivitas, Climacus selanjutnya justru mengatakan bahwa tindakan memilih dan memutuskan adalah bagian dari penderitaan yang mesti dihadapi manusia.[11] Seseorang menyadari bahwa kepadanya ditawarkan banyak pilihan, karena itu baginya memilih satu saja berarti menyingkirkan pilihan lain. Ketidaktahuannya mengenai apa yang ia pilih akan menyebabkan penderitaan. Untuk mengatasi penderitaan itulah, seseorang mesti menghasrati (passionate) sepenuhnya apa yang dipilihnya. Dalam arti ini, ia harus berani melompat dan meyakini apa yang dipilihnya, meski lompatan itu menuntutnya untuk meninggalkan segala bentuk kemapanan demi hal-hal yang tidak pasti. Dikatakan oleh Climacus, hal ini hanya dapat dicapai ketika seseorang memiliki iman (faith), yakni keyakinan akan hal-hal yang berada di luar jangkauannya, termasuk imannya kepada Yang Ilahi. Keyakinan tersebut pada akhirnya memungkinkan individu untuk menggali ke dalam dirinya nilai-nilai paling penting dari suatu kebenaran, untuk kemudian dibenturkannya terhadap kenyataan yang dihadapinya dan lantas dikembalikannya ke dalam dirinya melalui jalan apropriasi. 

Tanggapan Pribadi
Pada masa pasca-Revolusi Prancis terutama di tahun-tahun Kierkegaard mengulas novel Two Ages di tahun 1846, saya membayangkan situasi dunia yang mulai mengarah pada upaya-upaya industrialisasi dan bagaimana masyarakat pada masa itu merespons situasi tersebut. Novel Two Ages agaknya menyinggung tokoh-tokoh yang hidup dalam situasi itu. Kierkegaard lebih jauh lagi membandingkan bagaimana kehidupan pada situasi revolusi, kisaran tahun 1789-1799, cenderung berbeda dengan situasi zamannya. Di zaman dalam rentang setelah Revolusi Prancis hingga Revolusi Eropa di tahun 1848, agaknya individu cenderung dimampatkan dan direduksi sebagai publik. Revolusi Prancis dan semangat negara-bangsa tampaknya menjadikan tiap individu pada masa itu demikian kuat menghendaki adanya kesetaraan (égalité) dan kebersamaan/persaudaraan (fraternité), meski menghadirkan pula unsur kebebasan (liberté). Namun, tampak dalam penjelasan Kierkegaard bahwa setelah hasrat revolusioner era revolusi (revolutionary age) itu meredup, orang-orang di era sekarang (present age) cenderung bersikap stagnan dan individu-individu di tengah masyarakat itu melebur menjadi publik dan kehilangan kediriannya.

Dengan situasi meredupnya hasrat zaman itu, pers justru mendukung publisitas yang berlebihan yang menjadikan orang-orang semakin pasif dan memborbardir mereka dengan opini yang penuh gunjingan, seperti halnya artikel yang ditulis oleh Peder Ludvig Møller yang menyinggung tulisan Kierkegaard, Stages on Life’s Way.[12] Ditemukannya mesin cetak Gutenberg bukan hanya berjasa memperbanyak dokumen-dokumen penting ataupun penyebaran kitab suci, melainkan membuka juga pintu pers dan media cetak, bahkan membantu penyebarluasan pamflet-pamflet yang bisa saja berisikan hal-hal temporer, seperti iklan ataupun publisitas yang intensif atas kehebatan diri sendiri atau kehebatan pihak tertentu. Di satu sisi, pers juga memiliki dampak positif bagi penduduk Denmark. Pada 1834, terdapat media cetak liberal yang menyalurkan pendapat publik, pers yang sama mendorong adanya gerakan liberal dan nasional Denmark.[13] Sejak pers liberal mulai mengemuka, pada dekade itu kita dapat membayangkan masyarakat Denmark bergerak untuk terlibat dalam Revolusi Eropa 1848. Dampak dari revolusi tersebut adalah berubahnya sistem pemerintahan Denmark menjadi monarki konstitusional pada 5 Juni 1849.

Apabila konteks yang dihadapi oleh Kierkegaard pada 1846 ditarik bahkan ke abad milenium ini, agaknya pandangan Kierkegaard masih sangat relevan. Di era media sosial, kenyataan ini bahkan semakin mencemaskan. Media sosial bekerja dengan prinsip egaliter, di mana posisi setiap orang ditempatkan setara dan kesetaraan itu (leveling) dalam kasus tertentu bersifat mutlak, misalnya penggunaan Facebook atau Twitter (dan media sosial sejenisnya) yang menerapkan asas kesamaan (equality) dengan tidak mementingkan apakah penggunanya adalah seorang presiden ataukah tukang bersih kamar mandi. Dengan demikian, media sosial menafikan adanya prinsip kontradiksi (principle of contradiction). Dalam situasi ini, setiap orang dapat membagikan apa saja yang ada di pikirannya bahkan pada setiap detik dan bergunjing tentang apa saja (chattering). Setiap orang yang terlibat dalam media sosial bisa secara instan kehilangan kediriannya lantaran bergumul dengan sekian banyak peristiwa yang dipergunjingkan orang-orang di sekitarnya dalam lini massa media sosial di internet.  

Saya melihat urgensi prinsip individualitas (principle of individuality) dan sikap hening (silence) yang dipaparkan oleh Kierkegaard untuk mengatasi gelombang informasi di media massa yang tak terbendung bagaikan air bah. Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah: hal apa yang perlu dikembangkan oleh seseorang di zaman ini untuk memiliki kesadaran akan pentingnya prinsip individualitas dan sikap hening?

Pertanyaan ini mengantarkan saya pada poin-poin kunci dalam teks-teks pseudonim Kierkegaard terdahulu yang memaparkan tentang pilihan-pilihan yang dihadapi oleh seseorang dalam hidupnya, jenis-jenis kebenaran dan bagaimana cara mencapainya, bahwasanya kebenaran adalah subjektivitas dan kebenaran yang diyakini tersebut harus diapropriasikan dalam hidup sehari-hari. Saya memilih menilik kembali teks CUP untuk disandingkan dengan TA karena saya melihat pentingnya refleksi subjektif bagi individu supaya ia dapat memiliki dan mempertahankan prinsip-prinsip subjektifnya yang dalam teks TA dinyatakan sebagai prinsip-prinsip individualitas. Saya kira seseorang perlu menggali ke kedalaman dirinya untuk menemukan subjektivitasnya dan mengapropriasikannya bagi dirinya untuk kemudian dapat memahami prinsip individualitas dan dapat bersikap hening, suatu sikap yang memungkinkannya untuk menyampaikan hal-hal yang paling esensial, dan melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar penting.  

Referensi
Anthony Furtak, Rick (ed.). (2010). Kierkegaard’s Concluding Unscientific Postscript: A Critical Guide. Cambridge: Cambridge University Press.
Hong, Howard V. dan Edna H. Hong (eds.). (2000). “Two Ages: The Age of Revolution and The Present Age: A Literary Review” dalam The Essential Kierkegaard. New Jersey: Princeton University Press.
______________________________________. “Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments” dalam The Essential Kierkegaard. New Jersey: Princeton University Press.
Olson, Kenneth E. (1966). The history makers: The press of Europe from its beginnings through 1965. Louisiana: Louisiana State University Press.
Stewart, John. (2015). A Companion to Kierkegaard. New Jersey: Wiley-Blackwell.
Tjaya, Thomas Hidya. (2010). Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.




[1] John Stewart dalam pengantarnya untuk A Companion to Kierkegaard menulis bahwasanya Kierkegaard menulis dengan pseudonim demi memperoleh keterhubungan antara dirinya sebagai pengarang dengan sebanyak-banyaknya pembaca berbeda yang tertarik pada tiga tema sentral yang sering dibicarakannya dan berkaitan dengan apa yang dipercayainya sebagai tiga tahap kehidupan manusia: tahap estetis, tahap etis, dan tahap religius.
[2] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh anonim dan diedit oleh Victor Eremita. Selanjutnya akan disingkat sebagai EO.
[3] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh Johannes de Silentio. Selanjutnya akan ditulis FT.
[4] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh Vigilius Haufniensis. Selanjutnya akan ditulis TCA.
[5] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh Johannes Climacus dan diedit oleh S. Kierkegaard. Selanjutnya akan ditulis PF.
[6] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh Johannes Climacus dan diedit oleh S. Kierkegaard. Selanjutnya akan ditulis CUP.
[7] Naskah heteronim Kierkegaard ini ditulis oleh S. Kierkegaard. Selanjutnya akan ditulis TA.
[8] Rick Anthony Furtak (ed.). Subbab “The Importance of Being Subjective” yang ditulis oleh Rick Anthony Furtak dalam Kierkegaard’s Concluding Unscientific Postscript: A Critical Guide (Cambridge: Cambridge University Press, 2010), hlm. 99-100. Furtak memperolehnya dari teks Edmund Husserl, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology (Illinois: Nothwestern University Press, 1970), hlm. 129; dan teks Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception (New York: Routledge, 2005), hlm. 240.
[9] Ibid., hlm. 101. Furtak mengutipnya dari teks Frederick Beiser, “The Enlightentment and Idealism” dalam The Cambridge Companion to German Idealism (Cambridge: Cambridge University Press, 2006), hlm. 20. Terdapat juga rujukan dalam teks Beiser tersebut bahwa Ronald M. Green menyebut secara singkat mengenai “epistemological link” dalam Kierkegaard and Kant: The Hidden Debt (SUNY Press, 1992), hlm. 83.
[10] Ibid, hlm. 101. Furtak mengutipnya dari Critique of Pure Reason A823/B851, hlm. 749. Furtak menyebutkan bahwa Kant menyinggung Aristoteles yang menyatakan bahwa ekspektasi tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada seorang matematikawan ataupun bukti yang absolut pada seorang penerap dialektika (Lihat Nicomachean Ethic 1094b-1095a).
[11] Thomas Hidya Tjaya. “Kebenaran sebagai Subjektivitas, Relasi dengan yang Transenden” dalam Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), hlm. 124.
[12] Pada 22 Desember 1845, Peder Ludvig Møller, mahasiswa Universitas Kopenhagen, melancarkan kritik atas teks Stages on Life’s Way dan diterbitkan The Corsair, surat kabar satire Denmark. Ia memuji kejenakaan dan intelektualitas Kierkegaard, tetapi mempertanyakan apakah Kierkegaard dapat menghidupi hal-hal yang dikatakannya. Kierkegaard membalas kritik tersebut dengan respons sarkastis, yang menyatakan bahwa Møller melancarkan kritik terhadapnya hanya untuk menarik perhatian elite kebudayaan Denmark. Peristiwa kehidupan Kierkegaard ini disebutkan oleh beberapa penelaah pemikiran Kierkegaard sebagai peristiwa The Corsair Affair.
[13] Kenneth E. Olson, The history makers: The press of Europe from its beginnings through 1965 (LSU Press, 1966), hlm. 50 – 64, 433.

No comments:

Post a Comment