Friday, March 24, 2017

Adriaan Peperzak: Metafisika Ontoteologis, dan Heidegger yang Melampauinya


Dalam artikelnya “Religion after onto-theology”, Adriaan Peperzak melancarkan kritik tentang warisan kekayaan pemikiran metafisika yang bersifat ontoteologis[1] selama 2.600 tahun yang dipadamkan di zaman ini,[2] terutama oleh para pemikir pascamodernis. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ia mencoba membantah adagium Metafisika telah mati dan tidak relevan lagi. Martin Heidegger adalah salah satu pemikir metafisika yang oleh Peperzak dipandang mengaburkan makna penting dari metafisika ontoteologis yang berkembang selama dua milenium tersebut. Kekayaan warisan pemikiran itu meliputi para pemikir yang oleh Heidegger disingkirkan dari genealogi pemikir filsafat yang disusunnya.[3]
 

Peperzak berpendapat bahwa, bagaimanapun, pemikiran-pemikiran ontoteologis tersebut penting dan masih relevan untuk dipelajari karena merupakan fondasi dari pemikiran yang berkembang setelahnya. Dua jalan ditawarkannya agar pengetahuan tersebut masih dapat diakses, yakni dengan merehabilitasi pemikiran-pemikiran tersebut dan berusaha memahami teks-teks hasil pemikiran tersebut dalam pendekatan berbeda. Dua tawarannya ini merupakan tanggapan terhadap interpretasi Heidegger terhadap suatu metafisika yang semestinya lepas dari karakter ontoteologis sebagaimana dinyatakan oleh Heidegger dalam “The Onto-theological Constitution of Metaphysics”. Empat hal yang disimpulkan oleh Peperzak dari interpretasi Heidegger tersebut:


1.      Heidegger mengkritisi bahwa keseluruhan tradisi ontoteologi dapat dipandang sebagai pemikiran non-religius, yang Peperzak pandang mungkin (ia menambahkan kata“perhaps” dalam kutipan Heidegger) berlaku bila ontoteologi dilepaskan dari hal-hal yang bersifat keilahian (the godly God).

2.      Heidegger menawarkan kriteria fenomenologis mengenai bagaimana keilahian ditunjukkan dalam “doa dan kurban/persembahan kepada-Nya”, “berlutut memuja”, dan “membuat musik serta tarian untuk Yang Ilahi”.

3.      Heidegger menyatakan bahwa pokok persoalan ontoteologis mengenai Yang Ilahi ini adalah bahwa ia dinyatakan sebagai suatu “penyebab awal” (causa sui).

4.      Heidegger sampai pada simpulan tersebut berdasarkan telusurannya atas filsafat barat yang bersifat Ontoteologis Barat (Western onto-theology) yang melakukan penekanan terlampau obsesif pada tradisi itu melalui istilah-istilah seperti “grounding” (Grunden), “founding” (Begründen), dan “finding out”  atau “fathoming” (Ergründen).


Dari keempat pokok argumen tersebut, Peperzak menilai bahwa Heidegger berusaha menjauhkan unsur ilahiah dari Filsafat Barat, dan terutama dari Metafisika tradisional (yang terus melakukan pencarian phusis). Dengan demikian, Heidegger telah menghancurkan suatu “proyek ontologi” selama dua milenium. Ia pun mengajukan suatu pertanyaan mengenai apakah tradisi panjang tersebut memang semata-mata berkutat pada unsur-unsur ilahiah. Untuk itu, ia mengatakan bahwa diperlukan pendekatan khusus dengan mengategorisasikan tentang makna dari apa yang dimaksud sebagai ilahi. Dari sana, ia lantas memilih satu kata dari deskripsi fenomenologis Heidegger yang dipandangnya sebagai apa yang autentik dari agama: doa.



Peperzak pun lantas mengkritisi cara umat beriman meyakini adanya Yang Ilahi (the godly God) dengan cara para pemikir berkeyakinan secara filosofis: apakah para filsuf itu sendiri melihat bahwa mereka juga memegang suatu keyakinan? Baginya, para filsuf pun demikian, sebagai pemikir mereka memiliki keyakinan atas pemikiran-pemikiran filsafatnya, yang ia sebut sebagai the god of the philosophers, sebagaimana para umat beriman memegang keyakinan terhadap Yang Ilahi. Seandainya hipotesisnya ini berterima bukan hanya sebagai impresi yang bersifat subjektif, maka dengan mudah dapat ditemukan keterkaitan antara “proyek ontologis” selama dua milenium yang masih penting untuk dipertahankan tersebut dengan kemungkinan dan aktualitas dari doa sebagai wujud autentik religiositas.




Dengan membuat jarak antara individu—beserta kesadarannya—dengan Yang Ilahi, wujud god of philosophy yang diusung oleh para pemikir filsafat barat modern membawa ontoteologi pada objektivikasi segala sesuatu, dan menggunakan pendekatan pemikiran yang sifatnya semata-mata bersifat kalkulatif dan teknologis. Filsafat barat modern dengan demikian tersebut gagal menjelaskan personalitas individu. Bahkan perkembangan psikologi lewat segala pendekatannya baik psikoanalisis, behaviorisme, ataupun kognitif menunjukkan betapa sedikitnya perhatian para pemikir terhadap pemahaman atas keutuhan manusia. Meski demikian, Peperzak menyadari bahwa klaimnya ini pun masih lemah dan dapat dibantah, misalnya saja dengan melihat bagaimana Hegel dan Kant di era modern pun masih dapat melihat totalitas dari segala sesuatu, dan menjelaskan subjektivitas dan relasi antarsubjektif. Bantahan lainnya terkait dengan pandangan bahwa sistem filsafat yang dikembangkan oleh Heidegger telah memberikan sumbangan yang berharga, terutama melalui fenomenologinya tentang Dasein sebagai wujud temporal (mengada di dunia bersama yang lain, being-in-the-world with others). Untuk bantahan yang terakhir ini, Peperzak menekankan delapan poin untuk didiskusikan, sebagaimana saya coba bahasakan kembali:


1.      Pemikiran Heidegger dalam Sein und Zeit baru merupakan separuh prasyarat untuk sebuah “proyek ontologi” yang sesungguhnya yang telah dikembangkan sejak era Yunani klasik. Betapa pun luar biasanya cara memandang dunia yang ditawarkan, horizon pemikiran Heidegger masih jatuh pada sifat egologis, di mana manusia tampaknya dipandang menjadi pusat dari alam semesta—sebagaimana warisan pemikiran filsafat barat modern sejak era Descartes.

2.      Emmanuel Levinas adalah pemikir yang agaknya mampu mengurangi porsi egologis di dalam sistem filsafat Heidegger, yakni dengan menawarkan suatu cara mengada yang memandang bahwa relasi antara sesama manusia dapat dipandang berkaitan dengan bagaimana manusia tersebut berelasi dengan Yang Ilahi.

3.      Untuk menjelaskan poin nomor 2, Levinas tidak mengklaim bahwa ia menolak sistem filsafat Heidegger, tetapi ia menyatakan penolakan terhadap cara mengada yang dipusatkan pada ego. Sementara Kant mengajukan bahwa seseorang memiliki martabat (Würde) dan nilai (Wert), Levinas bersepakat bahwa orang-yang-lain yang dihadapi oleh seseorang tersebut memiliki derajat (height, hauteur). Di sini, Levinas merespons pertanyaan di era modern terkait bagaimana kita memahami hubungan antarsubjektif dan kaitannya dengan kontak manusia dengan Yang Ilahi.

4.      Namun demikian,  ditilik dari poin nomor 3, persepsi seseorang mengenai orang-yang-lain hanya dimungkinkan bila dilakukan dari sudut pandang orang pertama—melalui ego subjektif. Oleh karena itu, Peperzak menawarkan kerangka metafenomenologis dalam memandang pemikiran Levinas, yakni lewat tiga distingsi: a) “the Other” dan “the Same,” b) “the Other” dan “the third (le tiers, all others), dan c) “the Saying (le Dire) dan “the Said (le Dit)”. Lewat pendekatan ini, Peperzak menyatakan bahwa setelah pemikiran transendentalisme Husserl, hanya Levinas yang menekankan keterlibatan antara pewicara (the speaker) dan penanggap (the speaker) dalam relasi yang memungkinkan manusia untuk saling berhadapan.

5.      Selain melancarkan kritik terhadap Heidegger, Peperzak juga menaruh perhatian dan mengkritik para pemikir modern hingga pascamodern. Dari eranya Descartes melalui Disours de la method, suatu cara baru dalam berpikir berkembang di era modern. Bagi Peperzak, sejak itu pulalah para pemikir mempelajari alam semesta dan relasi antarmanusia dengan berjarak. Sejak Kesadaran melalui Cogito dipandang sebagai hal yang paling penting, maka totalitas segala sesuatu juga ditempatkan dalam subjektivitas manusia. Pada era ini pula, Etika dan Agama terpinggirkan.

6.      Proyek ontoteologis hanya dapat diperbarui apabila analisis yang memadai diberikan terhadapnya. Selain menekankan bagaimana individu dapat dihargai dalam pemikiran filsafat, perlu juga dipikirkan kembali mengenai esensi dari “saya”. Levinas telah berusaha untuk melakukan hal ini dengan memperbarui filosofi “saya” melalui Otherwise than Being.

7.      Hanya suatu fenomenologi mengenai individu yang memandang versi menyeluruh dari kamu, saya, kami, kita semua, kamu (lelaki), dan kamu (perempuan) suatu sistem filsafat mengenai personalitas dapat dikatakan memadai, tetapi hal tersebut belum dan tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan pemahaman individu dari umat beriman tentang doa, agama, dan Yang Ilahi. Untuk memiliki pendekatan mengenai Yang Ilahi dalam Filsafat, diperlukan suatu filsafat manusia yang lebih mencukupi.

8.      Bila suatu proyek ontoteologi masih dipandang memiliki masa depan, maka realisasinya membutuhkan lebih banyak lagi sumbang pikiran di antara para pemikir dan orang-orang yang menaruh perhatian terhadap warisan kekayaan ontoteologi dan pemikiran religius dalam suatu praktik iman terhadap Yang Ilahi secara afektif, imajinatif, lewat praktik dan ritual, liturgis, maupun konstitusional, dengan berbagai kemungkinan pengembangan intelektual.



Demikian delapan poin yang ditawarkan oleh Peperzak dengan tanggapan, kritik dan bantahannya atas beberapa pemikiran yang menolak adanya metafisika ontoteologis, beserta tawarannya tenang kemungkinan untuk melanjutkan suatu proyek ontoteologis kembali. Namun demikian, dari sisi Heidegger sendiri, perlu juga dipahami bahwa ia memandang metafisika dalam sejarah filsafat barat, terkait pencarian Sang Ada, sebagai pelupaan terhadap Ada itu sendiri, tentunya terutama karena filsafat barat selama dua milenium itu tidak memahami karakter Sang Ada sebagai sesuatu yang tidak tersingkapkan.



Selain itu, seperti yang kita ketahui bersama, di era modern, Metafisika adalah cap buruk bagi Skolastisisme. Oleh karena itu, Andre Lalande berpendapat bahwa Metafisika tidak dapat lagi berfokus pada kajian metafisika ontoteologis sebagaimana yang diajukan oleh Peperzak, tidak lagi berspekulasi tentang jiwa, juga bukan tentang Yang Ilahi. Menurut Lalande, Metafisika hendaknya hanya menjadi science de l’etre (ilmu tentang etre, ada, being) dalam artinya yang paling umum dan menyeluruh, dan berbasiskan pada logika internal pemikiran manusia (kaitan being dengan pikiran).[4]



Di titik ini, Heidegger justru dapat dikatakan berusaha melampaui Metafisika. Ia “menyelamatkan” Metafisika dengan memenuhi apa yang dibayangkan Lalande sebagai Metafisika yang masih dapat relevan di masa ini, dan lepas dari cap buruk yang dilekatkan padanya. Bahkan, ia justru mengajak kita mendalami lebih jauh lagi tentang makna ada, mengada, Sang Ada, dan kesadaran. Melalui sistem filsafatnya, Heidegger membawa kita untuk memikirkan lebih mendalam tentang makna dari pikiran, bagaimana cara mengada bagi manusia sehingga ia dapat membuka diri lewat Stimmung (perasaannya) terhadap pertanyaan tentang Sang Ada, dan agaknya agar disadari bahwa pemahaman akan Sang Ada itu sendiri juga sebenarnya selalu tersembunyi, sehingga Heidegger menyebutnya sebagai Seyn (kata ini tidak ada maknanya dalam bahasa Jerman) yang ia maknakan sebagai Ketiadaan.[5] Pada titik ini, Heidegger justru merevitalisasi cara berpikir metafisika ontoteologis ke metafisika yang dipandang hendaknya menjadi sciende de l’etre dan mempertahankan posisi Metafisika sebagai ilmu yang dapat tetap relevan untuk didalami kembali.






[1] Pemikiran metafisika yang bersifat ontoteologis ini dikaitkan dengan metafisika yang berkembang sebelum Heidegger. Metafisika berkarakter ontoteologis ini bercirikan suatu pencarian terhadap Sang Ada yang mencakup dimensi yang tertampakkan dari esensi terdalam sesuatu (phusis). Dalam pemikiran metafisika yang dikembangkan oleh Heidegger, hal ini tidak disepakati, karena menurut Heidegger Sang Ada tersebut tidak mungkin tersingkapkan sepenuhnya, bahwa ada phusis yang selalu menyembunyikan diri (aletheia).
[2] Zaman ini merujuk pada tahun konferensi, pada Juli 2001, ketika makalah Adriaan Peperzak dipresentasikan dalam konferensi berjudul sama dengan judul makalahnya, “Religion after onto-theology”, dan masih relevan hingga makalah ini ditulis.
[3] Para pemikir yang tercakup dalam genealogi tersebut agaknya berkarakter cenderung religius, di antaranya pemikir Yunani Klasik pasca-Aristoteles (semua pemikir dari masa 300 SM sampai 600 M), sebagian besar pemikir Kristen seperti Justin dan Clement (200 M) hingga Cusanus (1500 M), seluruh pemikir Yahudi dan Muslim, Inggris dan Amerika, pemikir Prancis kecuali Descartes, dan pemikir-pemikir jenius lainnya seperti Spinoza, Jacobi, Marx, Freud, Blondel, dan Bergson.
[4] Lihat atikel Majalah Basis Nomor 07-08, Tahun Ke-63, 2014 yang berjudul Metafisika (2).
[5] Lihat atikel Majalah Basis Nomor 07-10, Tahun Ke-63, 2014 yang berjudul Heidegger: Melampaui Metafisika.

No comments:

Post a Comment