Friday, July 25, 2008

Berguru pada Kemiskinan

Berwajah kumal
Dengan hati gempal

Betis robek terluka
Menyusuri lorong dunia

Bangun lalu terjatuh lagi
Hingga rasa sakit mati

Isi perut
Hanya urusan badut
Yang senantiasa menghibur
demi sebutir telur

Tak ada letak keadilan
Ditemukan pun hanya sebatas angan

Rakyat miskin
Di negeri tanpa kain
Harga diri yang hadir
Dijual di rumah bordir

Terluntalah mereka
Yang memiliki asa dan cita
Pergi ke mana mereka ingin
Menumpang pada angin
Pergi dengan gratis
keberanian menyentuh ambang kritis

Merekalah preman
Yang berupa teman
Bukan lawan
Merekalah kawan
Yang percaya ambang kemiskinan
bisa dientaskan

Datangi mereka
Yang kaya akan ilmu berharga
Bergurulah
Tanpa lelah ataupun Jengah

2 comments:

  1. chell..hanya orang2 yg terketuk hatinya yg mau berguru pada kemiskinan..tapi kalo orang2 di pemerintahan itu, paling cm segelintir yang mau..

    ReplyDelete
  2. Dalam banyak kasus (dan mungkin biasanya) orang yang senang sastra adalah "pemberontak". Pemberontak bukan dalam artian negatif tentunya. Dia kerap tak sepakat dengan realita atau imaji yang ditawarkan kehidupan umumnya.

    Seringkali sastra membentuk imaji yang "lain" dengan menguak citra yang tersembunyi, melihat sisi kehidupan yang tak nyata. Dan sastra kerap digunakan sebagai penyeru.. Setelah imaji kehidupan yang "lain" telah ia susun, maka ia menyeru masyarakat/pembaca dengan metafora yang ia bangun. yang ia inginkan bukanlah suatu bentuk dukungan atau minimal satu persetujuan, bukan pula pertentangan.

    Sebailknya yang ia inginkan adalah pertanyaan.. Pertanyaan yang muncul dari masyarakat setelah tergelitik dengan metafora yang menggeliat sehingga tersibaklah kebenaran.. dan tersingkaplah apa yang tersembunyi.. sebuah pemaknaan diri dan alam, kehidupan, dan juga penciptaan. Seperti halnya dengan puisi ini "Bergurulah pada Kemiskinan", menyerukan agar pembacanya melihat perspektif kehidupan mereka yang begulat dengan lingkar kemiskinan serta nilai-nilai hakiki dan kesejatian.

    Anak muda juga adalah masa bermanifestasi dan bercita-cita. Seyogianya manusia bertindak atas empat kaidah: Kaidah benar-salah (logika), baik-buruk (norma), bijak-tidak bijak (etika) dan indah-tidak indah (estetika). Seyogianya pula yang akhir itu tak dapat digapai sebelum yang awal tercapai.

    Biasanya manusia harus menjadi orang benar dulu, baru menjadi baik. Setelah menjadi menjadi baik, barulah ia menjadi orang bijak. Dan kemudian setelah itu, jadilah manusia yang indah.

    Bagi anak muda, yang dekat dengan anti kemapanan dan dengan Romantisme masa muda, ternyata kaidah diatas tidak berlaku sepenuhnya... karena anak muda mencampur yang awal dengan yang akhir. Antara logika, perasaan dan estetika.. menjadi pembela kebenaran sekaligus menggelorakan keindahan kata dalam koridor romantisme perjuangan atau penyebaran ide. Hal inilah yang membuat bahwa biasanya memang sastrawan lahir dari anak muda.. anak muda tidak perlu menjadi orang baik atau orang bijak, cukup ia menjadi orang benar. sehingga memang selalu ada benang merah antara sastra dan anak muda..

    Lantas apa yang bisa dilakukan oleh sastra?
    Bisakah ia mengubah gerak sejarah dan peradaban? Bukan tanggung jawab sastra untuk mengampu roda sejarah dan peradaban.. cukuplah sastra mewarnai peradaban dengan menyeru para aktor sejarah untuk selalu merefleksikan diri dan kehidupan.. disisi lain sastra adalah pembelenggu karena ia selalu mengikat manusia agar tak lepas dari pemaknaan kemanusiaannya..hingga masyarakat yang nirmakna tak perlu ada. Sastra adalah pembatas sekaligus pembebas..ia memberi narasi besar peradaban dan membatasi semuanya hingga tak lepas dari nilai kemanusiaan..
    Selalu ada benang merah antara sastra dan semangat muda.

    Salam apresiasi!

    ReplyDelete