Wednesday, April 16, 2008

Surat untuk Mama

Tuhan, apa kau tahu?

Aku belum mewujudkan cita-citaku, bersamanya.
Aku belum lulus SMA,
Aku belum tujuh belas tahun,
Aku belum menepati janji-janjiku kepadanya,
Aku belum memberikan seluruh cintaku kepadanya.

Dia yang melahirkanku, dia yang membesarkanku, hanya kami berdua. Lalu apa, Tuhan?
Apa yang dapat aku lakukan untuk menggambarkan rasa kehilanganku?
Aku ingin mati saja, karena raga ini miliknya, karena raga ini pernah bersatu dengan tubuh yang kini mengapung-apung di lautan berbentuk abu dan tulang.

Aku ingin menyerahkan seluruh hidupku kepadanya,
untuk membuktikan betapa besar cintaku.
Kenapa Kau tak izinkan aku melakukannya, Tuhan?
Kenapa?

Ma...
Mama dengar?
Mama lihat?
Lihat...

Apa yang Mama lakukan?

Janji-janji yang Mama kubur, cita-cita yang Mama sirnakan.

Lihat?


Kenapa Mama pergi?
Bahkan tak menunggu putri semata wayang Mama ini?
Tanpa kata-kata terakhir?
Tanpa kata "cinta" untuk selamanya buatku.

Kenapa merelakanku? Kenapa tersenyum?
Apa aku bisa hidup tanpamu, Ma?

Mama di mana?
Kok rumah kita sepi?
Kok tak ada yang tahu Mama ada di mana?

Katanya surga itu ada,
Katanya setelah kematian, akan ada kehidupan yang lain

Nyatanya, Mama sekarang di mana?
Kenapa, Ma?
Kenapa Mama pergi?
Kenapa?

Kesalahanku apa, Ma, sampai Mama pergi meninggalkanku untuk selamanya?
Ma, aku rindu sekali, rindu Mama.
Tak ada lagi yang tersenyum untukku di pagi hari,
menyuapiku kasih dan cintanya.

Tak ada lagi tempatku berkeluh kesah, berbagi rahasia.
Rahasia-rahasia kita berdua, akan kubawa ke mana, Ma?
Apa kusimpan di balik pintu dan kusembunyikan dari orang-orang yang mampir untuk turut berduka ke rumah kita? Yang kini bernama "rumah duka".

Kenapa ini terjadi dengan kita, Ma?
Mama tahu sekarang aku sendiri?
Mama tahu sakitnya hatiku?
Kenapa Mama tak mau menunggu?

Semua orang bilang... katanya "ini memang sudah waktunya".
Oke, sudah waktunya, ya?
Lalu, kenapa semangat hidup Mama di pagi terakhir itu sangat tinggi?
Kenapa semangat Mama seolah ikut dikobarkan oleh matahari yang terbit pagi itu?

Apa itu saat terakhir kita?
Pagi di saat aku minta izin untuk sekolah?
Senyum terakhir?

Mama, tangisku tiap malam tak pernah bisa kuhapus.
Terlalu banyak
Ceritaku kepada semua orang, semua teman-teman yang selalu kuceritakan kepadamu tiap harinya.. memenuhi ponselku. Cukup? Cukup?
Sudah sebulan Mama pergi... hari ini.
Melupakanmu, sama dengan membunuh diriku sendiri.

Mama.
Mama.
Kenapa, Ma?

Apa Mama pikir aku mampu?
Apa Mama pikir aku bisa?
Apa Mama pikir aku kuat?

Mama.
Aku tak menangis waktu tubuh Mama dibakar.
Aku terus melafalkan mantram trisandhya, aku mencintaimu.
Semuanya terpana, mereka bangga, Ma.

Karena aku tak menangis, karena aku tak menunjukkan raut kesedihanku.
Aku menyembunyikan kesedihanku.
Tapi itu jauh lebih sakit.

Seumur hidup, aku benci 16 FEBRUARI.
SEUMUR HIDUP, aku aku benci 14 Februari, hari di mana Mama dioperasi.
Hari ketika Mama marah-marah dan menyalahkan ASKES.
Mama irit cuma untuk membiayaiku kuliah jadi dokter, kan?

Ma, aku janji...
suatu hari nanti,
kalau aku sudah jadi dokter,
aku tidak akan memberikan kesedihan yang sama kepada pasienku.
Aku akan membantu mereka mewujudkan mimpi mereka bersama putri mereka, bersama anak kesayangan mereka, bersama keponakan, saudara-saudara, ayah-ibu, kakek-nenek, paman-bibi, bersama dunia mereka.

Ma, sudah cukup?
Apa aku boleh melupakanmu?

Rasanya sakit.

Sayang, jika aku melupakanmu, aku juga turut mati.
Lalu, apa harus kupendam sendiri semuanya?

Mereka tak mengerti.
MEREKA SELALU MENYALAHKANKU.

"Jiwa, ditempatkan di gelas, maka akan menyerupai gelas, ditempatkan pada tubuh manusia, akan menyerupai tubuh itu."

Lalu, apa kini Mama memenuhi udaraku?
Apa kini Mama menghiasi tanah, air, laut, dan semua tempat?

Tapi Mama di mana?
Apa Mama sudah tenang?

Lalu, kenapa tak mengabariku?
Kenapa tak pernah datang ke mimpiku?

Ma, kumohon...
ucapkan kata-kata terakhirmu..

Kenapa tak menungguku?
Kenapa tak cerewet dan menasihatiku panjang lebar seperti biasa?
Walau untuk terakhir kalinya?

Ma.
Kumohon.
Datang, ya... malam ini.
Jangan buat aku melupakanmu.
... tolong.

3 comments:

  1. mama... begitu juga aku kehilangan papa. walau berbeda kelamin tapi mereka orang yang sanggup menghapus air mata kala aku sedih, memberi air kala aku haus, bahkan memberikan hujan kala bercita-cita.
    tapi kusadar semua ada waktunya.. berakhir untuk memulai yang baru dan memulai yang baru untuk berakhir.
    sayang aku tak mempunyai kekuasaan atas alam semesta ini... seandainya aku punya kekuasaan tentu aku akan pilih kasih kepada orang-orang yang kusayangi untuk selalu kujaga dan kupelihara agar selamanya ada disampingku.
    aku tak menyesal karna aku tahu mungkin sesuatu aku benci itu sebenarnya itu sayang, sesuatu yang jelek itu sebenarnya baik, sesuatu yang menyebalkan itu sebenarnya menyenangkan... pada hakikatnya. bahkan bisa sebaliknya...

    hidup ini seperti ujian akhir dengan mata kuliah keIklasan, keTabahan,keSabaran,keYakinan dan ujian berpasrah diri pada Maha Yang Kuasa.
    Ujian akhir bukan berarti setelah itu ujian yang terakhir namun ujian akhir takkan pernah berakhir sampai hembusan nafas berhenti.

    ReplyDelete
  2. Aku melihatmu menggeliat dengan barisan suratmu...

    ReplyDelete
  3. aku terbawa dalam alur cerita mu... hiks...hiks.. sambil membayangkan JIKA itu aku... hiks...hiks...

    ReplyDelete